RSS

Pakaian Wanita, Dalam Tuntunan Islam

11 Mar

Manusia merupakan mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna, memiliki akal dan memiliki perasaan yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang indah dan mana yang jelek.

Wanita adalah bagian dari manusia ciptaan Allah yang memiliki keinginan kuat untuk selalu berusaha menjaga keindahannya.

Pakaian adalah salah satu bentuk penerapan keindahan bagi wanita. Dalam beberapa aspek, keindahan memiliki ukuran yang sangat relatif, tergantung dari parameter ukuran apa yang digunakan.

Nah sejauh apa parameter yang harus digunakan dan yang diperkenankan bagi wanita dalam pandangan Islam?

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluan mereka. Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (terpaksa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khimar(tudung) ke dada-dada mereka.”(QS. An-Nur: 31)


Perhiasan yang dimaksud adalah perhiasan yang digunakan oleh wanita untuk berhias, selain dari asal penciptaannya (tubuhnya).

Khimar adalah sesuatu yang digunakan oleh wanita untuk menutupi kepalanya, wajahnya, lehernya, dan dadanya.

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ تَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ تُرْخِينَهُ شِبْرًا قَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفَ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ تُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لَا تَزِدْنَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memanjangkan kainnya kerana sombong maka Allah tidak akan melihatnya.” Ummu Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus dilakukan oleh para wanita dengan hujung pakaian mereka?” Beliau menjawab, “Kalian boleh memanjangkannya sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi, “Jika begitu, maka kaki mereka akan terbuka!” Beliau menjawab, “Kalian boleh menambahkan satu hasta dan jangan lebih.” (HR. At-Tirmizi no. 1731 dan An-Nasai no. 5241)

Sehasta adalah dari ujung jari tengah hingga ke siku.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Makna ‘berpakaian tetap telanjang’ adalah: Dia menutup sebagian auratnya tapi menampakkan sebagian lainnya. Dan ada yang menyatakan maknanya adalah: Dia menutupi seluruh auratnya tapi dengan pakaian yang tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Lihat Syarh Muslim: 14/356


Ketiga dalil di atas menunjukkan wajibnya seorang muslimah untuk berhijab.


Hijab secara syar’i adalah

seorang wanita menutupi seluruh tubuhnya dan perhiasannya, yang dengan hijab ini dia menghalangi orang asing (bukan mahram) untuk melihat sedikitpun dari bahagian tubuhnya atau perhiasan yang dia pakai. Dan hijab ini adalah berupa pakaian dan juga berdiam di dalam rumah.

Adapun menutup seluruh tubuh maka ini meliputi wajah dan kedua telapak tangan. Ini ditunjukkan dalam surah An-Nur di atas dari beberapa sisi:

1.    Allah memerintahkan untuk kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka dari yang bukan mahram mereka. Dan menundukkan pandangan tidak akan sempurna kecuali jika wanita tersebut berhijab dengan hijab yang sempurna menutupi seluruh tubuhnya. Sementara tidak diragukan lagi bahwa membuka wajah merupakan sebab terbesar untuk memandang ke arahnya.

2.    Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan sedikitpun dari perhiasan luarnya kepada bukan mahram, kecuali terlihat dalam keadaan terpaksa kerana tidak boleh disembunyikan, contoh pakaian luarnya. Jika Allah Ta’ala melarang untuk memperlihatkan perhiasan luar (selain tubuh), maka tentunya wajah dan telapak tangan yang merupakan perhiasan yang melekat pada diri seorang wanita lebih wajib lagi untuk disembunyikan.

3.    Allah Ta’ala memerintahkan untuk melabuhkan khimar mereka sampai ke dada-dada mereka, sementara khimar adalah sesuatu yang digunakan wanita untuk menutup kepalanya. Jika khimar diperintahkan untuk dilabuhkan sampai ke dada, maka tentunya secara otomatik wajah tertutup oleh khimar tersebut.

“Semoga Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama. Tatkala Allah menurunkan, “Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dada-dada mereka,” mereka merobek kain-kain mereka lalu menjadikannya sebagai khimar.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,

“Ucapan ‘mereka lalu menjadikannya sebagai khimar’, yakni: Mereka menggunakannya untuk menutupi wajah-wajah mereka.” (Lihat Fath Al-Bari: 8/489)


Adapun hadits Ibnu Umar di atas, maka dia menjelaskan mengenai beberapa perkara:

1.    Kaki wanita adalah aurat yang wajib ditutup.

2.    Larangan isbal(kain yang menutup mata kaki) hanya berlaku bagi lelaki dan tidak berlaku bagi wanita.

3.    Panjang maksimum pakaian wanita adalah sehasta dari mata kaki, tidak boleh lebih dari itu.

Sementara hadits Abu Hurairah menjelaskan tentang syarat-syarat hijab dan hijab secara umum, yaitu:

1.    Hijab tidak boleh tipis sehingga menampakkan apa yang ada di baliknya.

2.    Hijab tidak boleh ketat sehingga membentuk lekukan tubuhnya.

3.    Haramnya wanita berjalan dengan berlenggok, kerana itu merupakan bentuk menampakkan perhiasannya.

4.    Wajibnya wanita menjaga kehormatan dan rasa malu mereka.

5.    Menutup sebahagian tubuh dan menampakkan sebahagian tubuh yang lain sama saja dengan telanjang.


[rujukan: Hirasah Al-Fadhilah karya Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid]

tambahan dari  Abdul Aziz Ismail Nuh:

1. Kewajipan menutup aurat di hadapan lelaki bukan mahram adalah amat penting dan perlu dilaksanakan oleh setiap wanita, bagi mengelak daripada berlaku perkara yang tidak diingini seperti rogol dan sebagainya. Perkara ini terjadi disebabkan memuncaknya nafsu para lelaki akibat dari penglihatan terhadap wanita memakai pakaian yang tidak senonoh dan mendedahkan sebahagian tubuh badan mereka.

2. Mu’awiyah bin Haidah mengatakan: “Aku pernah bertanya: Ya Rasulullah, bagaimanakah aurat kami, apakah boleh dilihat oleh orang lain?”. Baginda menjawab: “Jagalah auratmu kecuali terhadap isterimu atau terhadap hamba abdi milikmu”. Aku bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimanakah kalau ramai orang mandi bercampur-baur di satu tempat?” Baginda menjawab: “Berusahalah seboleh mungkin agar engkau tidak boleh melihat aurat orang lain dan ia pun tidak boleh melihat auratmu”. Aku masih bertanya lagi: “Ya Rasullullah, bagaimanakah kalau orang mandi sendirian?” Baginda menjawab: “Seharuslah ia lebih malu kepada Allah daripada malu kepada orang lain”. (Hadis riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud)

oleh Abdul Aziz Ismail Nuh pada 28 Desember 2010 jam 9:43

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Maret 2011 in Hijab

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: