RSS

Berhati-hatilah saudaraku dalam memilih teman dan sahabat……………!

12 Mar
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam menjalin suatu persahabatan, yaitu dalam hal memilih sahabat dan tata cara bersahabat.

1. MEMILIH SAHABAT

:Rasulullah SAW bersabda yang artinya:”Seseorang itu mengikut atau menurut agama (cara hidup) temannya, oleh karena itu hendaklah seseorang diantara kamu melihat terlebih dahulu siapakah yang sekiranya pantas atau cocok dijadikan teman.”

Jika mencari teman dalam belajar atau dalam urusan agama atau bekerja, maka pilihlah orang yang memenuhi lima syarat yaitu:

a. Orang yang berakal (cerdas).

Bergaul dengan orang yang bodoh hanya akan mengakibatkan cekcok dan keretakan yang pada akhirnya dapat menimbulkan permusuhan dan menyulitkan kita sendiri.

Musuh yang berakal itu lebih baik dari pada teman yang bodoh. Ali bin Abi Thalib berkata:

”Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang bodoh, waspadalah dengan orang-orang bodoh.”

”Banyak sekali orang yang alim menjadi hina dan rendah karena bergaul dengan orang bodoh.”

”Seseorang itu dianggap sama dengan seseorang ketika sedang berjalan bersama-sama.”

”Seperti dua pasang sandal yang sudah tentu menyamai satu dengan yang lainnya.”

”Segala sesuatu itu memiliki kesamaan dan kemiripan dengan sesuatu yang lain.”

”Hati seseorang itu dianggap sama dengan hati orang lain, ketika satu dengan lainnya dapat bertemu (bersahabat).”

b. Orang yang baik akhlaknya.

Jangan bersahabat dengan orang yang buruk akhlaknya, yaitu orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya ketika marah dan juga tidak dapat menahan kemauan / syahwatnya.

Menjelang wafatnya Alqomah Al-Tharidy berpesan pada puteranya:

”Wahai anakku, apabila engkau hendak menjalin persahabatan dengan seseorang, maka pilihlah orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

dapat menjagamu apabila engkau berkhidmah kepadanya,

dapat memperbaiki kamu apabila engkau berteman dengannya,

dapat membantu kamu apabila engkau sedang memerlukan bantuan,

selalu membalas jasa baikmu dengan kebaikan pula,

selalu mengakui kebaikanmu,

selalu menutupi kejelekanmu, dapat menghargai atau mempercayai ucapanmu,

selalu memberi bantuan apabila engkau mengerjakan sesuatu,

dan mau mengalah apabila berebut sesuatu denganmu. ”

Ali bin Abi Thalib berkata:

”Sahabatmu yang sebenarnya ialah orang yang selalu bersamamu (di waktu senang dan susah) dan orang yang sanggup mengorbankan diri demi kebaikanmu.”

”Dan orang yang sanggup memecahkan segala urusannya, untuk menolongmu ketika engkau sedang dilanda bencana.”

c. Orang yang shaleh.

Janganlah berteman dengan orang yang fasiq, yaitu orang yang terus-menerus melakukan dosa-dosa besar. Orang yang tidak takut kepada Allah itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya, pendiriannya akan selalu berubah-ubah sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al Kahfi (18)ayat 28 yang artinya:

”…dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Janganlah bergaul dengan orang yang fasiq karena dengan melihat kefasiq-kan secara terus-menerus maka akan menghilangkan kebencian kita terhadap kemaksiatan, lalu akhirnya dapat membuat kita menganggap enteng terhadap perbuatan maksiat itu, dan akhirnya kita ikut melakukannya.


d. Tidak rakus dengan harta.

Janganlah bersahabat dengan orang yang rakus (cinta) harta kekayaan.

Persahabatan dengan orang yang cinta dunia merupakan racun yang ganas. Tabiat manusia selalu ingin meniru dan mengikuti tabiat orang lain, bahkan watak itu dapat menular tanpa kita sadari.

Bergaul dengan orang yang rakus terhadap harta akan menambah kecintaan kita pada harta, dan sebaliknya bergaul dengan orang yang tidak cinta harta akan mengurangi kecintaan kita terhadap harta kekayaan.

e. Orang yang jujur.

Janganlah bersahabat dengan seorang pendusta sebab kemungkinan kita juga akan tertipu olehnya, dengan kelicinan lidahnya.

Itulah lima hal yang perlu diperhatikan dalam memilih teman/sahabat. Akan tetapi jika kita kesulitan untuk menemukan orang yang memiliki sifat-sifat seperti tersebut di atas maka kita diperbolehkan memilih satu diantara dua perkara, yaitu:

Pertama: Uzlah, yaitu mengasingkan diri / tidak bergaul dengan siapapun. Dengan uzlah maka kita pasti selamat.

Kedua: Bergaul menurut kondisi yang bersangkutan. Maksudnya yaitu jika berteman dengan tujuan supaya bahagia di hari kemudian maka yang harus dipertimbangkan dengan benar adalah masalah agamanya.

Jika berteman untuk urusan dunia maka yang harus diperhatikan adalah kebaikan akhlak, dan jika menjalin persahabatan dengan tujuan agar hati menjadi tenteram maka yang harus diperhatikan adalah keselamatan dari kejahatan.

Macam manusia dapat diumpamakan seperti benda, yaitu:

a. Orang yang seperti makanan pokok. Orang yang seperti ini pasti kita butuhkan dan tentu saja kita harus berteman dengannya setiap hari.

b. Orang yang seperti obat. Orang yang seperti ini perlu diperguli hanya jika diperlukan saja/tidak setiap hari.

c. Orang yang seperti penyakit, dan perlu dihindari. Tetapi terkadang seseorang itu tertimpa oleh penyakit, terkadang seseorang itu didekati dan ditemani oleh orang yang berbahaya meskipun dia membencinya dan sudah berusaha untuk menghindarinya. Namun demikian, orang yang seperti penyakit itu dapat memberi faedah yang besar pada kita jika kita mampu menghadapinya, yaitu dengan cara mengamati kejelekan dan kejahatannya yang kita benci, lalu kita berusaha menjauhi kejahatan itu. Termasuk orang yang beruntung adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain, dan orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin yang lain.

2. TATA CARA / KESOPANAN BERSAHABAT :

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

”Perumpamaan dua orang yang bersahabat itu seperti dua tangan, yang satunya membasuh yang lainnya.”

Dalam suatu jalinan persahabatan terdapat hak-hak yang yang wajib untuk dipenuhi. Dalam satu riwayat Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Orang yang berteman, meskipun sesaat di waktu siang akan ditanyai tentang persahabatannya. Apakah dia dalam persahabatannya itu telah memenuhi hak-hak yang diatur oleh Allah atau menyia-nyiakannya.”

Beliau juga bersabda yang artinya:

”Dua orang yang berteman yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling menyayangi temannya.”

Tata cara atau kesopanan dalam persahabatan diantaranya adalah:

1. Lebih mengutamakan teman dalam urusan harta. Apabila tidak mampu berbuat demikian maka hendaklah seorang teman itu memberikan kelebihan harta yang telah diperlukan.
2. Segera memberikan bantuan tenaga kepada teman yang sedang memerlukannya sebelum diminta.
3. Menyimpan rahasia teman.
4. Menutupi cacat atau kekurangan yang ada pada diri teman.
5. Tidak memberitahukan pada teman mengenai omongan negatif orang-orang tentang dirinya.
6. Selalu menyampaikan pujian orang lain kepada teman.
7. Mendengarkan dengan baik ucapan teman ketika dia sedang berbicara.
8. Menghindari perdebatan dengan teman.
9. Memanggil teman dengan panggilan yang paling disukai.
10. Memuji kebaikan teman.
11. Berterima kasih atas perbuatan baik teman.
12. Membela kehormatan teman seperti halnya dia membela kehormatan dirinya.
13. Memberi nasihat kepada teman dengan cara yang halus dan bijaksana.
14. Selalu memaafkan kekeliruan dan kesalahan teman.
15. Selalu mendoakan baik kepada teman ketika dia masih hidup maupun sesudah mati.
16. Tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga teman meskipun temannya telah meninggal dunia.
17. Tidak memberi beban tanggung jawab yang menyulitkan kepada teman, dan semestinya kita berusaha meringankan beban berat / tanggung jawab teman agar hidupnya senang.
18. Menampakkan rasa senang ketika temannya sedang mendapat kesenangan dan ikut bersedih hati apabila teman kita mengalami kesusahan.
19. s. Menyamakan perasaan terhadap teman antara yang di dalam hati dan yang di luar.
20. Memberi salam terlebih dahulu kepada teman
21. Berusaha meluaskan tempat duduk untuk temannya ketika dia masuk ke dalam suatu majlis. Jika tidak memungkinkan maka hendaknya kita beranjak dari tempat duduk dan mempersilahkan teman untuk duduk di tempat kita.
22. Mengantarkan teman ketika dia berdiri hendak ke luar dari rumah kita.
23. Hendaknya diam ketika teman sedang berbicara dan tidak menimpali ucapan teman.

Sebagai akhir dari tulisan ini maka saya mengejak pada teman-teman dan sahabat-sahabat sekalian agar memperlakukan teman kita dengan perlakuan yang menyenangkan, seperti halnya kita ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain.

Barang siapa tidak bisa mencintai teman seperti halnya dia mencintai dirinya sendiri, maka persahabatan orang seperti ini tidak tulus dan akan membawa bencana di dunia dan di akhirat.

Demikianlah tata cara atau kesopanan yang harus diperhatikan dalam memenuhi hak-hak persahabatan dengan orang-orang dan teman-teman dekat kita sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Abu Hamid Al-Ghozali (seorang ulama’ bergelar Hujjatul Islam abad ke XII M).

Semoga uraian singkat di atas dapat membuat kita lebih memahami dan menghargai arti sebuah persahabatan/pertemanan, serta dapat kita jadikan sebagai salah satu pedoman dalam pergaulan sehari-hari. Wassalam…

oleh Imam Syafi’i pada 06 Januari 2010 jam 20:45

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Maret 2011 in Al-Islam

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: