RSS

Hati Yang Sehat

15 Mar

Hati yang sehat yaitu hati yang bersih dimana seseorang pun tak akan bisa selamat pada hari kiamat kecuali jika datang kepada Allah dengannya, sebagaimana firman Allah:

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara’: 88-89).

Disebut qalbun salim (hati yang bersih, sehat) karena sifat bersih dan sehat telah menyatu dengan hatinya, sebagaimana kata Al-Alim, Al-Qadir (Yang Maha Mengetahui, Mahakuasa). Di samping itu, ia juga merupakan lawan dari sakit dan aib.
Orang-orang memang berbeda pendapat dalam memaknai “qalbun salim.”

Sedang yang merangkum berbagai pendapat itu ialah yang mengatakan qalbun salim yaitu hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang bertentangan dengan berita-Nya.

Ia selamat dari melakukan penghambaan kepada selain-Nya, selamat dari pemutusan hukum oleh selain Rasul-Nya, bersih dalam mencintai Allah dan dalam ber-hukum kepada Rasul-Nya, bersih dalam ketakutan dan berpengharap-an pada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam kembali kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridha-Nya di segala keadaan dan dalam menjauhi dari kemung-karan karena apa pun.

 

Dan inilah hakikat penghambaan (ubudiyah) yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata.

Jadi, qalbun salim adalah hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alasan apa pun.

la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawa-kal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja'(pengha-rapan),

 dan ia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata.

 Jika ia men-cintai maka ia mencintai karena Allah.

Jika ia membenci maka ia mem-benci karena Allah.

Jika ia memberi maka ia memberi karena Allah.

Jika ia menolak maka ia menolak karena Allah.

Dan ini tidak cukup kecuali ia harus selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ia harus mengikat hatinya kuat-kuat dengan beliau untuk mengikuti dan tunduk dengannya semata, tidak kepada ucapan atau perbuatan siapa pun juga; baik itu ucapan hati, yang berupa kepercayaan; ucapan lisan, yaitu berita tentang apa yang ada di dalam hati; perbuatan hati, yaitu keinginan, cinta dan keben-cian serta hal lain yang berkaitan dengannya; perbuatan anggota badan, sehingga dialah yang menjadi hakim bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun yang sepele.

 Dia adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga tidak mendahu-luinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan,

sebagaimana firman Allah,

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Hujurat: 1).

 

Artinya, janganlah engkau berkata sebelum ia mengatakannya, ja-nganlah berbuat sebelum dia memerintahkannya.

Sebagian orang salaf berkata, “Tidaklah suatu perbuatan -betapa pun kecilnya- kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan: Kenapa dan bagaimana?”

Maksudnya, mengapa engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2011 in Qolbu

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: