RSS

Memindahkan Hati Ke Akhirat..maukah?

16 Mar

Barangsiapa mengharapkan akhirat, kemudian berusaha untuk mendapatkannya sedang ia seorang Mukmin, maka usahanya akan diganjar.” (QS. al-Israa’:19)

Kita ini dalam perjalanan pulang. Pulang ke kampung Akherat. Tapi orang-orang bodoh, mereka bekerja mati-matian untuk bekal dunia. Orang-orang seperti itu, adalah orang-orang yang tertipu. Dan lebih bodoh lagi kalau ada orang yang mau berjihad fii sabilillah tujuannya dunia. Ngeri orang seperti itu. Akibat sikap orang-orang seperti ini, akhirnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam giginya patah dalam perang Uhud.

Pemanah-pemanah dalam perang Uhud itu turun rebutan ghonimah. Minhum man yuriidu dunya minhum man yuriidu akhiroh. Para perindu akhirat inilah yang menjadi perisai-perisai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang menghendaki akhirat pada waktu itu, adalah Anas bin Nadhr. Yang ketika dia mati, di dadanya terdapat lebih dari tujuh puluh lubang antara luka pedang tombak dan panah.

Ibnul Qoyyim al Jauziyah mengatakan,

“Kalau hati ini sehat dari penyakit ini, maka hati kita ini akan pindah ke akhirat.” Jasadnya saja di dunia. Itulah orang yang akalnya sehat. Dia sadar bahwa dia sekarang sedang berjalan ke akherat. Dia tamak sekali menumpuk kekayaan untuk akherat. Seperti tamaknya ahli dunia menumpuk harta kekayaan di dunia. Sebagaimana ‘Aisyah rodliyallahu ‘anha. Beliau itu menabung, sampai mendapatkan seratus ribu dirham dan dia punya daftar nama-nama orang yang hendak dibagi-bagi. Tatkala beliau mendapat seratus ribu dirham itu, senangnya bukan main. Senang bukan karena tamak dengan dunia, tapi tamak dengan akherat. Target nama-nama yang beliau kumpulkan terpenuhi. Kakaknya Asma’, ibunya Abdullah bin Zubair lain lagi. Beliau tidak mau menabung sebagaimana ‘Aisyah radliyallahu ‘anha. Pokoknya harta yang didapatkan hari itu, habis ‘Isya harus habis. Semuanya disedekahkan sebelum tidur, besoknya mencari yang baru. Besok pagi adalah urusan besok pagi. Sikap Asma’ ini sama nilainya dengan ‘Aisyah.

Benar kata Ibnul Qoyyim al Jauziyah ini, kalau hati kita sehat akan berpindah ke akherat. Pindah dari barang-barang kecil di dunia ini kepada sesuatu yang tinggi. Dan mulai di akherat. Bagaimana caranya agar hati kita pindah dari dunia ke akherat? Kalau kita berkumpul hanya membicarakan masalah dunia, meetingnya hanya masalah dunia dan tak pernah ngaji, tidak pernah membicarakan halal haram, maka hati kita akan semakin mendalam terhadap dunia. Maka hati akan menjadi sakit.

Seorang ‘Alim berkata: “Kasihan ahlu dunia, keluar dari dunia tidak pernah merasakan sesuatu yang paling nikmat di dunia.” Sebagian orang bertanya, “Apa sesuatu yang paling nikmat di dunia itu?” Berkata, “Mahabatullah.” Merasa tenang tatkala berinteraksi dengan Allah, rindu segera bertemu dengan Allah, dan merasa nikmat tatkala dzikir kepada-Nya dan melaksanakan ketaatan-Nya.

Berikutnya, ciri orang-orang yang merasakan sesuatu yang paling nikmat di dunia adalah merasa nikmat tatkala berinteraksi dengan Allah. Dia merasa nikmat tatkala bangun jam dua malam melaksanakan qiyamul lail. Merasa tentram dan tenang. Kemudian rindu ingin segera bertemu dengannya. Alkisah, para mujahidin Arab, sebagian dari Yaman, Syiria, Qathar, dan Saudi, yang tadinya ikut jihad di Afghanistan, merasa sedih karena di jihad di Afghanistan usai. Mereka merasa sedih dan seakan tak punya harapan lagi untuk meraih manisnya mati syahid. Seperti pedagang pasar yang pasarnya sepi. Mereka berkata, “Kalau jihad sudah tak ada bagaimana nasib kita ini?” Jadi mereka sedih karena jihad sudah usai. Jadi akhirnya mereka pulang ke negerinya masing-masing di jazirah Arab.

Kemudian mereka mendengar ada tragedi pembantaian umat Islam di Bosnia. Mereka mendengar bahwa di Bosnia ada jihad. Mereka merasa senang sekali pergi ke sana. Mereka berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru dunia. Senangnya mereka itu seperti senangnya ahlu dunia mengejar pasar. Kenapa mereka bisa seperti itu, karena rindunya akan segera bertemu dengan Allah sudah tak tertahankan.

Orang-orang yang hatinya telah pindah ke akherat, mereka merasa nikmat dengan ketaatan yang ia laksanakan. Kenikmatan yang besar karena ia selalu ingat Allah, merasa diawasi oleh-Nya. Orang-orang seperti inilah yang patut mengatakan, “Kasihan ahlu dunia. Mereka tidak bisa merasakan sesuatu yang paling nikmat di dunia. Cita-citanya sangat dangkal!”

Kepada para perindu akherat lah kita seharusnya ‘mendongak’ dan iri dengan watak mereka…

Lalu bagaimana dengan kita? Hidup ini adalah pilihan? Jalan ke Surga sudah jelas, dan Jalan ke Neraka juga jelas? Pilihlah jalan yg kau sukai, karena amalanmu utk dirikamu sendiri…

Wallahu a’lam bish showab..

Your brother in Jihad,
Muhammad Jibriel Abdul Rahman

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2011 in Qolbu

 

Tag: , ,

9 responses to “Memindahkan Hati Ke Akhirat..maukah?

  1. Ma Sang Ji

    16 Maret 2011 at 06:01

    “Jalan ke Surga sudah jelas, dan Jalan ke Neraka juga jelas?”
    Maaf, saya masih bertanya-tanya akan jelasnya dua jalan tersebut.
    Dapatkah saya diberitahu kriteria apakah yang paling tepat untuk menentukan jelas-tidaknya dua jalan tersebut?

     
    • n1tn1x

      17 Maret 2011 at 08:23

      Mang Sang Ji yang baik, berita mengenai syurga dan neraka , mengapa dan bagaimana secara jelas dan terinci terdapat di dalam Al-Quran sebagai Kitab petunjuk bagi umat islam, dan hadits Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
      Allah SWT. berfirman:
      “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah, 2: 2).

      cara mdh memahaminya adl Syurga mrpk reward,award, sdngkn neraka mrpk punishment, syurga bg mrk yg taat dan beriman melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, sedangkan neraka bg mereka yg durhaka kpd perintah Allah SWT..serta dunia ini sbg ujianya.

      Beriman kepada Allah memerlukan deklarasi ketaatan mutlak kepadaNya yaitu laa ilaaha illallah,(menyakini bahwa tdk ada tuhan yang berhaq disembah selain Allah ) tanpa ragu.apabila sebaliknya, dia akan menjadi kafir shg menjerumuskanya ke neraka

      Firman Allah Ta’ala :
      “Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu kerana itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 21-22)

      Allah Ta’ala berfirman :’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Syurga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong pun.” (Al Maidah : 72)

      Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
      “Dosa besar itu adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa seseorang, dan sumpah palsu” [HR. Al-Bukhari]

      Firman Allah Ta’ala :
      “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 133)

      Firman Allah Ta’ala :
      “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan : 70)

      sbg referensi awal bisa dibaca pd postingan syurga dan neraka..
      Wallahu’alam bis showab..

      semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan seluruh kaum Muslimin kepada jalan yang lurus dan selamat. Selamat dari kesyirikan dan kesesatan di dunia dan selamat dari adzab Allah di akhirat nanti. aamiin..

       
    • Ma Sang Ji

      17 Maret 2011 at 16:42

      Anda menjelaskan kriteria jalan menuju surga/neraka. Namun saya masih penasaran mengenai kriteria akan jelas-tidaknya jalan tersebut.
      Saya menanyakan ini karena tak habis pikir, kenapa orang-orang yang sama-sama berlandaskan Al-Qur’an ternyata mengambil jalan yang bertolak belakang. Contohnya: muslim ekstrem memerangi orang kafir, sedangkan muslim liberal malah bersahabat dengan orang kafir. Padahal, yang ekstrem dan liberal itu sama-sama mengaku “taat dan beriman melaksanakan perintah Allah”. Nah, kalau jalan menuju surga itu sudah jelas, mengapa langkah yang ditempuh oleh kedua golongan muslim itu bertolak belakang?

      Bayangkan bila kita sedang berada di persimpangan jalan raya di Semarang. Papan penunjuk arah menunjukkan bahwa arah ke kiri menuju Jakarta, sedangkan arah ke kanan menuju Surabaya. Lantas, karena penunjuk arah tersebut sangat jelas, maka hampir semua orang yang hendak menuju Jakarta takkan tersesat bila mengambil jalan ke kiri.

      Sekarang, bandingkan penunjuk arah lalu lintas itu dengan petunjuk yang menjadi pedoman jalan hidup umat Islam. Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa jalan menuju surga itu sudah jelas, sedangkan langkah yang ditempuh oleh kedua golongan muslim itu bertolak belakang? Apakah “yang jelas” bagi Anda itu, tidaklah jelas bagi sekelompok orang muslim lainnya?

       
      • n1tn1x

        18 Maret 2011 at 00:10

        dari apa yg sudah di jelaskan, sudah sangat terang benderang..,

        Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menggariskan satu garis (di atas tanah) pada kami lalu kami menyatakan : “Ini adalah jalan Allah “, kemudian beliau menggariskan beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu menyatakan : “Ini adalah jalan-jalan ( As-Subul, maknanya beberapa jalan yang banyak) dan di atas setiap jalan ini ada syaitan yang mengajak kepadanya”. Lalu beliau membaca (Firman Allah) : “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am : 153).

        Bahwa jalan (yang lurus) itu hanya satu, dan syaitan berupaya untuk memecah belah manusia di sekitar jalan tersebut. Maka tidak ada cara yang paling baik untuk memecah belah manusia dengan ajaran bahwa jalan kebenaran itu banyak. Maka barang siapa yang melempar keragu-raguan kepada manusia dengan pertanyaan bahwa kebenaran itu tidak terbatas pada satu jalan saja, maka dia adalah syaitan. Dan Allah menyatakan : “Maka tidak ada setelah kebenaran itu kecuali adalah kesesatan.” (QS. Yunus : 32).

        Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah–belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum 31-32).

        anda katakan :kenapa orang-orang yang sama-sama berlandaskan Al-Qur’an ternyata mengambil jalan yang bertolak belakang…sedangkan langkah yang ditempuh oleh kedua golongan muslim itu bertolak belakang

        anda sudah menjawab pertanyaan anda sendiri..

         
      • Ma Sang Ji

        18 Maret 2011 at 10:12

        “… langkah yang ditempuh oleh kedua golongan muslim itu bertolak belakang”
        Mengapa langkahnya bertolak belakang padahal petunjuk jalannya sama? Apakah “yang jelas” bagi satu golongan yang benar, tidaklah jelas bagi golongan-golongan lain yang salah?

         
  2. n1tn1x

    18 Maret 2011 at 11:23

    Mengapa langkahnya bertolak belakang padahal petunjuk jalannya sama?
    inilah makna pilihan..

     
    • Ma Sang Ji

      18 Maret 2011 at 12:21

      Karena kedua golonogan itu sama-sama memilih “jalan yang jelas-jelas benar” menurut pandangan mereka masing-masing, maka kami simpulkan:
      Jalan “yang jelas” bagi suatu golongan, belum tentu jelas pula bagi golongan lain.

       
  3. n1tn1x

    18 Maret 2011 at 14:43

    maka berdo’alah agar mendapat hidayah ..
    Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran..Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QsYunus-36)

     
    • Ma Sang Ji

      19 Maret 2011 at 05:16

      “Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.”
      Ya, memang begitu.
      Kebanyakan orang salah menganggap dirinya benar.
      Kebanyakan orang benar menganggap dirinya salah.
      Maka menangislah bila perlu!

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: