RSS

“Sedihlah pada Tempatnya”

22 Mar

Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan sepele seputar duniawi; bersedih karena sedikitnya harta, bersedih karena belum mendapatkan jodoh, bersedih karena belum memiliki anak, bahkan ada yang bersedih karena karena kecewa dengan cinta yang tak abadi. Padahal dunia ini tempat persinggahan sementara.

Setiap orang sudah pasti akan mati, menemui Tuhannya, masuk surga atau neraka. Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80 tahun, misalnya. Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan dan amal sholeh.

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya) :

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (Qs.Al Munaafiquun : 11).


Para ulama adalah orang yang hidup sederhana. Jika mendapatkan harta sekian, mereka mensyukurinya dan merasa cukup ( qana’ah) dengannya. Sebut saja misalnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Rabi’ah al-Adawiyah, dan Sayyid Quthb. Mereka hidup melajang hingga wafatnya, tapi mereka tidak bersedih karena belum menikah. Imam Bukhari hingga wafatnya belum memiliki anak satu pun, tapi tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia meratap karena tidak dikaruniai anak.

Kebahagiaan seseorang itu tidak diukur dari materi duniawi, melainkan dari kebenaran yang sedang ditegakkannya dan kedekatannya pada Allah SWT. Bersedih karena urusan-urusan duniawi tidaklah menenteramkan hati dan tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada kita. Sebaliknya, kesedihan hanya menambah gejolak dalam jiwa kita.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi salah seorang tabi’in yang sedang menangis, maka orang itu menaruh belas kasihan kepadanya. Ia lalu bertanya, ”Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada rasa sakit yang kau alami?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.” Orang tadi bertanya lagi, ”Apakah kamu mendapat berita bahwa salah seorang anggota keluargamu meninggal dunia?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.” Orang itu bertanya lagi, ”Apakah kamu kehilangan hartamu?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”

Laki-laki itu pun berkata sambil terheran-heran, ”Lalu, apakah yang lebih dahsyat dari semua itu?” Tabi’in itu menjawab, ”Kemarin, karena tertidur, saya lupa bangun malam ( tahajud ).

”Semestinya memang itulah yg harus kita sedihkan ….
Shalat yang tidak khusyuk, tidak mengisi waktu luang dengan amal shalih, tidak qiyamul lail, atau tidak bersedekah. Atau, melalaikan segala amal shalih lainnya padahal seharusnya kita sempat mengerjakannya.

Kita bersedih mestinya karena bekal untuk akhirat belum terisi penuh, padahal kita tak pernah tahu sampai batas mana usia kita. Lalu kesedihan itu akan menggerakkan hati untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sahabatku,…
Jika bukan sabar, apalagi? tidak ada yg lebih indah dari sebuah kesabaran. Sabar dalam duka dan suka, sabar dalam nikmat dan ujian, semuanya butuh kesabaran, sabar menghadapi sahabat, saudara dan kehidupan, semua diantara kita mempunyai kelemahan, dan cara terbaik menghadapi kelemahan itu dengan kesabaran? fasbir, shobron jamill. SubhanAllah

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya) :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Qs.Al Baqarah:155)

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya) :

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).

Sahabatmu,
Muhammad Jibriel Abdul Rahman

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Maret 2011 in Nasihat

 

Tag: , ,

5 responses to ““Sedihlah pada Tempatnya”

  1. abudzar114

    22 Maret 2011 at 08:42

    Subhanalloh… izin zhare
    …mmm mungkin cocok juga nih buat ukhti Ma Sang Ji..
    https://n1tn1x.wordpress.com/2011/03/16/memindahkan-hati-ke-akhirat-maukah/#comment-29

     
    • Ma Sang Ji

      23 Maret 2011 at 09:36

      Nasihatnya bagus sekali. Terima kasih, terima kasih.

       
  2. Al-Kautsar

    23 Maret 2011 at 15:27

    Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman( Qs Ali ‘Imran;139)

     
    • Ma Sang Ji / 마상지

      23 Maret 2011 at 18:02

      Tidak pernahkah Nabi Muhammad dan para sahabat beliau menangis? Apakah dengan demikian, mereka bersikap lemah?

       
      • Al-Kautsar

        24 Maret 2011 at 09:23

        Yazid Ar-Raqqasyi meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw. pada waktu yang tidak biasa dan dengan raut muka yang berbeda dari biasanya. Nabi Saw. lantas bertanya, “Kenapa aku
        melihat kamu dengan raut muka yang berbeda?” Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang kepadamu pada saat Allah memerintahkan supaya api neraka dinyalakan. Tidak pantas jika orang yang mengetahui bahwa neraka, siksa kubur, dan siksaan Allah itu sangat dahsyat untuk bersenang-senang sebelum dirinya merasa aman dari ancaman-ancaman itu.”
        Nabi Saw. lantas bersabda, “Wahai Jibril, lukiskanlah keadaan neraka Jahanam itu kepadaku. Jibril berkata, ”Baik. Ketika Allah Ta’ala menciptakan neraka Jahanam apinya dinyalakan selama seribu tahun hingga berwama hitam. Jadi, neraka Jahanam itu hitam kelam, nyala dan baranya tidak pernah padam. Demi Dzat yang mengutus Engkau dengan kebenaran, seandainya neraka Jahanam itu berlubang sebesar lubang jarum, niscaya segenap penghuni dunia akan terbakar karena panasnya. Demi Dzat yang mengutus Engkau dengan kebenaran, seandainya ada satu baju penghuni neraka .itu di gantung di antara langit dan bumi, niscaya semua penghuni . dunia akan mati karena bau busuk dan panasnya.
        Demi Dzat yang mengutus Engkau dengan kebenaran sebagai Nabi, seandainya sehasta dari mata rantai sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran, diletakkan di puncak gunung, niscaya bumi sampai ke dalamya akan meleleh. Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran sebagai Nabi, seandainya ada seseorang yang berada di ujung Barat dunia ini disiksa, niscaya orang yang berada di ujung Timur akan terbakar karena panasnya.
        Neraka itu mempunyai tujuh pintu, dan masing-masing pintu dibagi-bagi untuk laki-laki dan perempuan.” Nabi Saw. bertanya, ” Apakah pintu-pintu itu seperti pintu-pintu kami ini?” Jibril menjawab, “Tidak, pintu itu selalu terbuka. Pintu yang satu berada di bawah pintu yang lain. Jarak pintu yang satu ke pintu yang lain sejauh perjalanan
        70 tahun. Pintu yang di bawahnya itu lebih panas 70 kali lipat dari pintu yang di atasnya. Musuh-musuh Allah diseret ke sana dan jika mereka sampai di pintu itu malaikat Zabaniyah menyambut mereka dengan membawa rantai dan belenggu.
        Rantai itu dimasukkan ke dalam mulutnya dan keluar dari duburya, sedangkan tangan kirinya dibelenggu dengan leherya, dan tangan kanannya dimasukkan ke dalam dada hingga tembus ke bahu. Setiap orang yang durhaka itu dirantai bersama setan dalam belenggu yang sama, lantas diseret wajahnya tersungkur dan dipukul oleh malaikat dengan palu. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran
        kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalam neraka.” Nabi Saw. lalu bertanya, “Siapakah penghuni masing-masing pintu itu?”
        Jibril menjawab, “Pintu yang paling bawah namanya Hawiyah berisi orang-orang munafik dan orang-orang yang kafir. Pintu kedua namanya Jahim berisi orang-orang
        musyrik. Pintu ketiga namanya Saqar tempat arang-orang shabi’in. Pintu keempat namanya Ladh berisi iblis dan orang-orang yang mengikutinya, serta orang Majusi. Pintu kelima namanya Huthamah tempat orang-orang Yahudi. Pintu keenam
        namanya Sa’ir tempat orang-orang Nasaroh. Jibril terdiam karena merasa segan kepada Rasulullah Saw. kemudian beliau bertanya, “Kenapa engkau tidak memberitahukan penghuni pintu yang ketujuh?” Jibril menjawab, “Di dalamnya berisi umatmu yang melakukan dosa-dosa besar dan tidak tobat sampai mereka meninggal dunia.”
        Kemudian Nabi Saw. pingsan mendengamya lantas Jibril meletakkan kepala beliau di pangkuan Jibril sampai beliau sadar kembali. Setelah sadar, beliau bersabda kepada Jibril, “Betapa besar cobaan yang menimpaku dan aku merasa sangat sedih. Jadi, ada di antara umatku yang akan masuk neraka?” Jibril menjawab, benar, yaitu umatmu yang mengerjakan dosa-dosa besar. Kemudian Rasulullah saw. menangis, dan Jibril pun juga ikut menangis. Rasulullah Saw. lantas masuk ke rumahnya dan menyendiri. Beliau hanya keluar rumah jika hendak mengerjakan salat dan tidak berbicara dengan siapa pun.
        Dalam salat beliau menangis dan sangat merendahkan diri kepada Allah Ta’ala. Pada hari yang ketiga, Abu Bakar r.a. datang ke rumah beliau dan mengucapkan, ”Assalaamu’alaikum, yaa ahla baitir rahmah, apakah saya bisa bertemu dengan Rasulullah SAW. ?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya, sehingga Abu Bakar menangis tersedu-sedu. Umar r.a. datang dan berdiri di depan pintu seraya berkata, ”Assalaamu’ alaikum, yaa ahlal baitir rahmah, apakah saya bisa bertemu dengan Rasulullah Saw.?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya, sehingga Umar Iantas menangis tersedu-sedu. Salman Al-Farisi. datang dan berdiri di depan pintu seraya berkata, ”Assalaamu’alaikum, yaa ahla baitir rahmah, apakah saya bisa bertemu dengan junjunganku Rasulullah Saw.?” Namun tidak ada yang menjawab, sehingga ia pun menangis dan terjatuh.
        Kemudian Salman bangkit dan mendatangi rumah Fathimah. Sambil berdiri di depan pintu ia berkata, ” Assalaamu’ alaiki, wahai putri Rasulullah Saw” sementara Ali r .a. sedang tidak ada di rumah. Salman lantas berkata, “Wahai putri Rasulullah Saw ., dalam beberapa hari ini Rasulullah Saw. suka menyendiri. Beliau tidak keluar rumah kecuali untuk salat dan tidak pemah berkata-kata serta tidak mengizinkan seseorang untuk masuk ke rumah beliau.” Fathimah lantas mengenakan pakaian panjang dan pergi ke rumah beliau. Di depan pintu rumah Rasulullah Saw. Fathimah mengucapkan salam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah Fathimah.” Waktu itu Rasulullah Saw. sedang sujud sambil menangis, lantas mengangkat kepala dan bertanya, ”Ada apa wahai Fathimah, Aku sedang menyendiri. Bukakan pintu untuknya.” Maka dibukakanlah pintu untuk Fathimah.
        Fathimah menangis sejadi-jadinya, karena melihat keadaan Rasulullah yang pucat pasi, tubuhnya tampak sangat lemah, mukanya sembab karena banyak menangis. Fathimah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang sedang menimpa dirimu wahai ayahku?” Beliau bersabda, “Wahai Fathimah, Jibril datang kepadaku dan melukiskan keadaan neraka. Dia memberitahu kepadaku bahwa pada pintu yang teratas diperuntukkan bagi umatku yang mengerjakan dosa besar. Itulah yang menyebabkan aku menangis dan sangat sedih.” Fatimah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka masuk ke neraka itu?” Beliau bersabda, “Mereka digiring ke neraka oleh malaikat. Wajah mereka tidak hitam, mata mereka tidak biru, mulut mereka tidak disumbat, dan mereka tidak dibelenggu ataupun dirantai.” la bertanya,” wahai Rasulullah, bagaimana sewaktu mereka digiring ke neraka oleh malaikat?” Beliau bersabda, “Laki-laki ditarik jenggotnya, sedangkan perempuan dengan ditarik rambut ubun-ubunnya.

        Kesedihan yang diharamkan apabila mengandung jeritan dan ratapan
        nasihat di atas bukan menunjuk pada akhlak namun nasihat dan anjuran

        Wallahu a’lam….

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: