RSS

THE POWER OF KEPEPET…

07 Apr


Beberapa waktu lalu, atas rekomendasi seorang kawan, aku membeli sebuah buku Best Seller di Gramedia. “The Power of Kepepet”, begitu judulnya. Unik dan menggelitik tanya. Isinya pun menarik dan enak dibaca. Makanya, tidak sampai dua hari buku itu habis aku lahap. Maksudnya, habis aku baca…hehe, jangan sampai disangka buku jadi korban lalapan.

Intinya, bahwa di balik ke”terpepet”an itu terselip sebuah energi luar biasa yang tidak diperoleh saat kondisi normal. Dan dalam hidup ini, hendaknya setiap kita selalu menciptakan kondisi kepepet itu dalam diri. Karenanya akan lahir ide-ide cemerlang. Akan terbit motivasi tuk keluar dari kondisi itu. Serta akan memancar keberanian luar biasa dalam jiwa. Jangan sampai kita larut dalam zona nyaman. Tak ada tantangan, hingga tumpul himmah dan semangat untuk lebih maju. Makanya, bagi kawan-kawan yang baru niat buka usaha dengan modal cekak alias pas-pasan, buku ini layak jadi referensi. Sebab memang, ia lebih didedikasikan untuk para pengusaha hijau. Ini bukan promosi lho. Aku tak ada kait mengaitnya dengan penulis dan penerbit bukunya.

Ada satu ilustrasi menarik yang dipaparkan sang penulis. Katanya, pernah dalam sebuah seminar ia melontarkan pertanyaan pada peserta. “Bayangkan, anda saat ini tidak punya tabungan. Sementara penghasilan anda kurang 5 juta perbulan. Apakah anda bisa menyiapkan besok jam 09.00 pagi, uang sebesar 50 juta untuk usaha anda. Yah, untuk modal usaha anda?! Hampir sepakat, seluruh peserta seminar mengatakan “tidak bisa”. Sebab mereka menakar kemampuan berdasar kondisi normal mereka. Kalau rata-rata mereka sanggup menabung 2 juta perbulan, maka dibutuhkan 25 bulan untuk memperoleh nilai 50 juta itu…!

Beliau lalu memutar sedikit pertanyaannya. “Bayangkan lagi, malam ini orang yang paling anda sayangi sakit keras. Kondisinya lemah. Dokter yang memeriksa menyimpulkan, ada tumor ganas yang harus segera diangkat besok jam 09.00 pagi, dan butuh biaya sebanyak 50 juta. Masihkah anda mengatakan tidak bisa?! Mayoritas peserta menjawab, “harus bisa”. Mengapa…? Karena kepepet. Yah kepepet… Sebab jika tidak, nyawa orang yang kita cintai akan melayang percuma. Tapi duitnya dari mana, Mas?. Entahlah…itu nomor tiga puluh enam.

Begitulah, lanjutnya, kondisi kepepet yang tidak memberi pilihan untuk “tidak bisa” acapkali mendesak manusia berpikir dan kreatif mengendus solusi agar” harus bisa”.

Nah, kalau dalam buku ini kondisi kepepet itu divisualisasikan hanya setakat untuk merengkuh kenikmatan dunia saja, maka sebagai seorang mukmin lebih pantas lagi jika kondisi ini selalu dihadirkan dalam urusan ukhrawi. Bahwa jatah umur yang amat sedikit mengharuskan kita berpacu dengan waktu. Jangan sampai ada jeda minus nilai ibadah. Atau, celakanya, jangan sampai ia berlabuh dalam dekapan lalai dan maksiat.

Sadarilah, bahwa kelalaian kita dari ibadah dan zikir padaNya lebih dikarenakan kita merasa telah berada di zona aman. Badan sehat, usaha menanjak, serta kehidupan serba mudah. Hingga tak jarang kita menganggap akan hidup seribu tahun lagi. Tak ada secuil kondisi “kepepet akhirat” dalam jiwa. Padahal hakikatnya, di dunia ini kita hanyalah sekelompok manusia yang menanti antrian menghadap sang Khaliq. Kita hanyalah sekumpulan manusia yang berlomba mengais puing-puing masa tuk mengisi pundi-pundi kebaikan. Sungguh perjalanan masih begitu panjang. Namun bekal kita masih terlalu cekak. Karenanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bersegeralah kalian beramal shalih sebelum datangnya 7 hal, tidaklah kalian menunggu selain kefakiran yang membuat lupa, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, masa tua yang melemahkan, kematian yang menyergap tiba-tiba, menunggu Dajjal padahal ia adalah seburuk-buruk yang ditunggu, atau menunggu datangnya kiamat padahal kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan menakutkan.” (HR. at-Tirmidzi no 2228).

Hadits ini memuat perintah Nabi untuk segera beramal shalih, dan tidak menundanya lagi. Sebab munculnya tujuh perkara yang dikhawatirkan itu begitu dekat dan tiba-tiba. Tak ada kabar dan berita. Alasannya, karena masa-masa yang disinggung itu, adalah saat dimana kita lemah dan futur dari amal shalih. Atau, bahkan ia adalah waktu dimana kita tidak sanggup lagi menunduk khusyu’ di hadapanNya.

Olehnya, mengapa harus menunggu? Atau, mengapa justru menghamburkan energi melacak kapan pastinya? Ke-misterian-nya adalah satu nikmat dari Allah Ta’ala. Kita tak tahu, sekiranya Allah menyibak detail waktunya di hadapan kita, boleh jadi bukan ibadah yang diperbanyak, tapi justru jiwa kita dihempas keputusasaan hebat hingga berakhir tragis. Mungkin saja… Karenanya, kewajiban kita, hadirkan selalu kondisi “kepepet akhirat” itu. Supaya jiwa terdera untuk selalu ingat dan zikir padaNya.

Hmm, kira-kira sebulan lalu, kala melayat jenazah salah seorang saudari dan sahabat, aku termenung. Rasanya terlalu cepat. Padahal belum lama menyaksikannya sehat wal ‘afiyat. Aku membayangkan, andai sebulan atau enam bulan atau setahun lalu dikabarkan, bahwa dirinya akan dipanggil pada hari ini. Kira-kira apa yang bakal ia lakukan pada sisa-sisa waktunya itu?! Aku yakin, setiap kita akan mengeja jawab, bahwa ia akan menghiasi diri dengan banyak ibadah dan kebajikan. Tahu kenapa?. Sebab saat itu ia berada dalam zona “kepepet akhirat”… Ah, itu cuma bayangan aku saja…

Demikianlah, sungguh kondisi kepepet adalah kekuatan besar yang sanggup melahirkan daya dobrak luar biasa. Makanya tak ada salahnya. Dan ini yang sering dilakukan kawan yang merekomendasikan buku itu. Setiap bertemu dan saling menyapa, selalu dibarengi dengan kepalan tangan sambil berkata, “The Power of Kepepet”…. Yah, buat kita, katakanlah selalu dalam hati saat jiwa sedang rapuh, tak mengapa sambil mengepalkan tangan, “The Power of Kepepet Akhirat”…!

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Qs. Luqman:33)

Makassar, 7 April 2011
Rappung samuddin

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 April 2011 in Hikmah

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: