RSS

Kebahagiaan….

28 Apr

Setiap manusia tentu menginginkan kebahagian menghiasi hidupnya, namun seringkali manusia lupa sebenarnya apa hakekat kebahagiaan itu. Persepsi apa itu bahagia dan bagaimana cara mendapatkanya tentu saja setiap orang akan berbeda pendapat. Sebagian menilai bahwa bahagia itu kalau mempunyai harta banyak, karier bagus, jabatan tinggi , dan kekuasaan ditangan.

Diantara beragam takaran kebahagiaan, sepertinya kekuasan merupakan hal yang paling menggiurkan. Beragam cara orang  lakukan demi untuk meraih dan merebut kekuasaan. Karena dengan kekuasaan segala hal bisa diperoleh, harta, wanita dan tahta..

Kekuasaan memang menggiurkan dan dianggap sebuah kebahagiaan dalam kehidupan.

Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak sesuai kehendak hatinya.
Tapi, kenyataanya betapa banyak manusia yang justru hidup merana dan terpuruk dalam kegemilangan kekuasaan. Bukan kebahagiaan yang dirasakan justru kesulitan dan keresahan menghampirinya , menerpanya, tanpa henti.. bahkan azab Allah yang diterimanya.  Kekuasaan yang tinggi, banyaknya harta malah membuatnya sombong dan melalaikanya dari beribadah kepada Allah.., seperti kisah qorun yang digambarkan  dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 76,78,79,81,82

Sesungguhnya Qorun adalah termasuk kaum Musa maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”(76)

Qorun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka(78)

Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”(79)

Maka Kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).(81)

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qorun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).”(82)

Kisah qorun hanya salah satu contoh, masih banyak kisah lainya yang karena kekuasaan dan harta menjadikanya lalai dan durhaka kepada Allah Ta’ala, kegilaan akan harta dan kekuasaan yang diharapkan menjadi sumber  kebahagiaan ternyata tidak hanya terjadi pada kaum terdahulu, dimasa kinipun hal itu banyak terjadi.

Sebagian yang lain menilai kebahagiaan dari kemapanan hidup, adanya jaminan pensiun, villa yang megah, anak-anak yang lulusan luar negeri , segenggam berlian , mobil import yang berderet dan masih banyak lagi yang menafsirkan kebahagiaan dari hal-hal yang bersifat materi saja.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Qs. Al Hadid;20)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Qs Ali ‘Imran 14)

 

Sekali lagi, kebanyakan orang menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan.

Padahal bisa jadi harta dan kedudukan malah membuahkan kehinaan pada para pemujanya. Hidupnya dihinggapi fitnah
Masalah demi masalah membelitnya.
Tak ayal harta justru membawa bencana.
harta yang dikumpul-kumpulkanya , menjadi sumber konflik antar saudara dan keluarga…

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan ( Qs. Al Kahfi;46)

Jangan hanya gara-gara mengejar harta demi kebahagiaan menjadikan lupa beribadah kepada Allah. Allah pun mengingatkan dalam firmannya

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (Qs. Al Munaafiquun :9)

 “Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah sewajarnya manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera.Tapi bagaimana memaknai kebahagian bagi seorang mukmin ?

Kebahagiaan seorang mukmin jelas akan nampak pada kondisi hatinya yang akan  dipenuhinya  dengan keimanan, dan berperilaku sesuai dengan keimanannya dengan menyandarkan pada syariat Allah . Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan; yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh setiap keadaan, setiap kondisi , dan dalam posisi apa pun akan dilaluinya dengan sabar, ikhlas, tawakal, dan syukur.


Tiga perkara, barangsiapa ada pada dirinya tiga perkara itu akan merasakan manisnya iman : Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai seseorang karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah dia diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia benci kalau dilemparkan ke dalam neraka.’ (HR. Muslim 1/66)


Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa :

surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya


Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, Hati yang selalu merasa cukup dan senantiasa bersyukur itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah. Itulah orang yang berakal yang tidak akan pernah menukar kebahagiaan abadi dengan kenikmatan sesaa’at .

Karena manisnya iman dan indahnya Islam itu bukan sekedar teori , tapi benar-benar merupakan kebahagiaan  hakiki yang dirasakan oleh seseorang yang mempunyai keimanan dan ketaatan yang kuat kepada Allah , yang wujudnya berupa kebahagian dan ketenangan hidup di dunia.


Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. ( Qs. Ar Ra’d;28)


Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:

 Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. Al-Mujaadilah: 11)


Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat kedudukan dan derajat orang-orang yang berilmu di dunia dan akhirat sesuai dengan ilmu dan amalanya. Nah, bagi seorang mukmin tidakkah hal ini merupakan sesuatu yang membahagiakan ?

Sebagaimana sebaliknya, orang yang lalai berpaling dari keimanan dan ketaatan kepada Allah maka dia pasti akan merasakan kesengsaraan dan kesempitan hidup di dunia, sebelum nantinya di akhirat dia mendapatkan azab yang sangat pedih. Allah berfirman:

 “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sengsara (di dunia), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaaha:124).


Kondisi yang demikian tentu bukan merupakan keadaan yang membahagiakan yang disebabkan karena lalai dari Allah.

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al A’laa 87 : 16-17)

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. Ar Ruum:7).


Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan proses pencapaian kebahagian yang hakiki dan manisnya iman yang diawali dengan kesusahan dan kepahitan, berkata: “…Kebahagian (dan kemanisan iman) ini, meskipun pada mulanya tidak lepas dari berbagai macam kesusahan, penderitaan dan perkara-perkara yang tidak disenangi, (tapi pada akhirnya nanti) akan membawanya kepada taman-taman yang indah, tempat yang penuh kebahagiaan dan kedudukan yang mulia…” .(HR. Muslim)

“Jannah (surga) itu dikelilingi (ditutupi) dengan perkara-perkara yang susah dan tidak disenangi oleh nafsu manusia, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang disenangi oleh nafsu syahwat manusia” (HR. Al Bukhari 5/2379 dan Muslim 4/2174 dari Abu Hurairah ).

 

Maka bila kita  sedang diuji dengan kedukaan , bukan berarti Allah membenci kita…melainkan agar kita memahami Hikmah, Rahmat dan Kasih sayangNya serta tetaplah berprasangka baik pada kehendak Allah


Hidup memang tak selamanya indah, rumput tak selamanya hijau, awan tak selalu putih, dan putaran roda tak selalu diatas . Apa yang kita inginkan tak selalu ada dan tersedia…padahal sudah berusaha…

Itu bukan karena Allah  bakhil ,khawatir kehilangan perbendaharaanya,atau menyembunyikan hak kita

akan tetapi…Karena ALLAH ingin…kita kembali padaNYA..

Menginginkankita untuk tunduk pasrah dan bersimpuh padaNYA…

Menjadikan kita dapat merasakan manisnya keikhlasan …setelah kita merasakan pahitnya ujian..

ALLAH hendak menganugerahkan pahala, menghapus dosa kita, menempatkan kita  pada kedudukan yang layak  disisiNYA kelak, yang dapat kita raih …dengan  bersabar..


Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas ( Qs. Az Zumar ;10)


 Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:

Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. (An Nisaa’ 4 : 77)

Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam

Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan ibarat seseorang di antara kalian yang memasukkan jari-jemarinya ke dalam lautan samudera, maka lihatlah apa yang diperoleh darinya.” (HR Muslim).


 Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembiraterhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Qs Al Hadiid:23)

Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah.

Dan ingatlah bahwa apa yang kita usahakan semasa hidup, yang kita sandarkan demi sebuah kebahagiaan , kelak akan ditanya di hari kiamat


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah bergesar kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat hal” yaitu
tentang masa mudanya, untuk apa ia habiskan,
tentang ilmunya, untuk apa ilmu itu dipergunakan,
tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia dibelanjakannya,
tentang jasadnya, untuk apa ia gunakan,
[HR. Tirmidzi]


Berlapang dada atas ujian Allah, ikhlas, sabar dalam menjalankan syariat Allah serta selalu berperasangka baik terhadap Sang Khaliq itu adalah sumber kebahagiaan dan merupakan hal yang terindah serta mulia dalam hidup ini. Janganlah merasa hina, dan bersabarlah, karena setiap ujian yg  dilalui itu adalah sebagai pahala dan amal untuk hari Akhir nanti yang membahagiakan…

Alangkah indah dan bahagianya hidup semacam itu…bahagia lahir, bathin , dunia dan akhirat…aamiin…

Disarikan dari beberapa kajian

Oleh : Al-Kautsar

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2011 in Hikmah

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: