RSS

Mereka Yang Tidak Dilalaikan Dengan Urusan Dunia Dari mengingat Allah

12 Mei

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Faathir ayat 28:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Muhammad bin Sirin rahimahullah

Muhammad bin Sirin rahimahullah[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya.

Akan tetapi tahukah anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangatwara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah?.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menukil dari Abu ‘Awanah al-Yasykuri, beliau berkata:

“Aku melihat Muhammad bin sirin rahimahullah di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah”[2].

Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini! Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada Allah Ta’ala! Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau.

Bukankah wajar kalau orang yang sedang beribadah di mesjid kemudian orang yang melihatnya mengingat AllahTa’ala? Tapi seorang yang sedang berjual-beli di pasar dengan segala kesibukannya tapi sikap dan tingkah lakunya bisa mengingatkan kita kepada Allah Ta’ala?

Bukankah ini menunjukkan bahwa orang-orang yang shaleh selalu menyibukkan diri dengan berzikir dan beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan?.

Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wali-wali (kekasih) Allah adalah orang-orang yang jika mereka dipandang maka akan mengingatkan kepada Allah”[3].

 

Imam Ibrahim bin Maimun ash-Sha-igh rahimahullah

 

Teladan kita berikutnya adalah Imam Ibrahim bin Maimun ash-Sha-igh rahimahullah, seorang imam Ahlus sunnah dari generasi Atba’ut tabi’in.

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menukil dalam biografi beliau bahwa pekerjaan beliau adalah tukang menempa logam, tetapi jika beliau telah mendengarkan seruan adzan shalat, maka meskipun beliau rahimahullah telah mengangkat palu, beliau tidak mampu untuk mengayunkan palu tersebut dan beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat[4].

Lihatlah betapa besar ketakutan dan pengagungan terhadap Allah Ta’ala di dalam hati orang-orang yang bertakwa sehingga kesibukan apapun yang mereka kerjakan sama sekali tidak melalaikan mereka dari memenuhi panggilan untuk beribadah kepada-Nya.

 Maha benar Allah Ta’ala yang berfirman:

{ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ}

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati” (QS al-Hajj:32).

 

Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari dua kisah di atas:

 

1. Orang mukmin yang bertakwa adalah orang yang tidak disibukkan dengan urusan dan kesibukan dunia dari mengingat Allah Ta’ala,

inilah yang dipuji oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

{رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ}

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS an-Nuur:37).

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (Allah) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi”[5].

 

2.     Tempat bekerja dan berjual-beli sangat berpotensi untuk melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala, maka menyebut dan mengingat Allah Ta’ala di tempat-tempat tersebut sangat besar keutamaannya di sisi Allah Ta’ala.

Imam ath-Thiibi berkata:

“Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan mereka (dalam ayat di atas)”[6].

3.     Mengambil contoh teladan dari kisah-kisah para ulama salaf adalah termasuk sebaik-baik cara untuk memotivasi diri sendiri guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala.  

Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang berupa kisah nyata, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan[7].

 Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

{وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud:120).


Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah berkata:

“Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)”[8].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

                                                                                          Kota Kendari, 1 Rabi’ul akhir 1432 H

                                                                                             Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com


[1] Beliau adalah Imam besar dari generasi Tabi’in, sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (wafat 110 H), Biografi beliau dalam “Tahdzibul kamal” (25/344) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (4/606).

[2] Kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (4/610).

[3] HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 12325), Dhiya’uddin al-Maqdisi dalam “al-Ahaaditsul mukhtaarah” (2/212) dan lain-lain, hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani rahimahullah dalam “ash-Shahiihah” (no. 1733) karena diriwayatkan dari berbagai jalur yang saling menguatkan.

[4] Lihat kitab “Tahdziibut tahdziib” (1/150).

[5] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/390).

[6] Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/273).

[7] Lihat keterangan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsir beliau (hal. 271).

[8] Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 595).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2011 in Hikmah

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: