RSS

Nama “Baitul Maal Wa Tamwil” (BMT) :)

24 Okt

Mengenal Baitul Maal Wa Tamwil 

KEBERADAAN baitul maal wa tamwil (BMT) sebagai salah satu perintis lembaga
keuangan dengan prinsip syariah di Indonesia, dimulai dari ide para aktivis
Masjid Salman ITB Bandung yang mendirikan Koperasi Jasa Keahlian Teknosa pada
1980.

Koperasi inilah yang menjadi cikal bakal BMT yang berdiri pada tahun
1984. Lembaga keuangan semacam BMT, sesungguhnya sangat diperlukan untuk
menjangkau dan mendukung para pengusaha mikro dan kecil di seluruh pelosok
Indonesia yang belum dilayani oleh perbankan yang ada saat ini. Sebagai
gambaran, usaha kecil mikro terdiri dari sektor formal dan informal, yang
menurut data Bappenas mencapai angka hampir 40 juta. Peluang pengembangan BMT
di Indonesia sesungguhnya sangat besar, mengingat usaha mikro dengan skala
pinjaman di bawah Rp 5 juta adalah segmen pasar yang dapat dilayani dengan
efektif oleh lembaga ini. Sementara di sisi lain, keberadaan perbankan yang
mampu melayani segmen ini sangat terbatas jumlahnya.

Baitul maal wa tamwil

Secara legal formal BMT sebagai lembaga keuangan mikro berbentuk badan hukum
koperasi. Sistem operasional BMT mengadaptasi sistem perbankan syariah yang
menganut sistem bagi hasil. Baitul maal dalam bahasa Indonesia artinya rumah
harta. Sebagai rumah harta, lembaga ini dapat mengelola dana yang berasal dari
zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Di sinilah sebenarnya letak keunggulan dari BMT dalam hubungannya dengan
pemberian pinjaman kepada pihak yang tidak memiliki persyaratan/jaminan yang
cukup. BMT memiliki konsep pinjaman kebijakan (qardhul hasan) yang diambil dari
dana ZIS atau dana sosial.

Dengan adanya model pinjaman ini, BMT tidak memiliki
risiko kerugian dari kredit macet yang mungkin saja terjadi. Jadi, sebenarnya
BMT memiliki semacam jaminan/proteksi sosial melalui pengelolaan dana baitul
maal berupa dana ZIS ataupun berupa insentif sosial, yakni rasa kebersamaan
melalui ikatan kelompok simpan pinjam ataupun kelompok yang berorientasi
sosial. Proteksi sosial ini menjamin distribusi rasa kesejahtera­an dari
masyarakat yang tidak punya kepada masyarakat yang punya. Dengan demikian,
terjadi komunikasi antara dua kelas yang berbeda yang akan memberikan dampak
positif kepada kehidupan sosial ekonomi komunitas masyarakat sekitar.

Bagian lain dari BMT adalah baitul tamwil atau dalam bahasa Indonesia berarti
rumah pembiayaan. Dalam konsep baitul tamwil, pembiayaan dilakukan dengan
konsep syariah (bagi hasil). Konsep bagi hasil untuk sebagian besar rakyat
Indonesia merupakan konsep yang telah sering dipraktikkan dan sudah menjadi
bagian dari proses pertukaran aktivitas ekonomi, terutama di pedesaan.
Contohnya, bagi hasil antara pemilik sawah dan penggarap sawah. Kelebihan
konsep bagi hasil adalah menyebabkan kedua belah pihak, pengelola BMT dan
peminjam saling melakukan kontrol. Di sisi lain pengelola dituntut untuk
menghasilkan untung bagi penabung dan pemodal.

Produk yang dikeluarkan oleh BMT
meliputi produk pembiayaan (mudhorobah, musyarakah), jual beli barang (BBA,
murabahah, bai assalam), ijarah (leasing, bai takjiri, musyarakah mutanaqisah),
serta pembiayaan untuk sosial (qordhul hasan). Produk tabungan meliputi
tabungan mudharabah dan ZIS.

Prinsip pemberian pembiayaan BMT

Seperti halnya bank, BMT sebagai pemberi dana (shahibul maal/pemilik dana),
dalam melakukan penilaian permohonan pembiayaan akan memperhatikan beberapa
prinsip utama yang berkaitan dengan kondisi secara keseluruhan calon peminjam
(mudharib). Prinsip ini dikenal dengan prinsip 5C, yaitu:

1. Character

Penilaian terhadap karakter atau kepribadian calon peminjam untuk memperkirakan
kemungkinan bahwa peminjam dapat memenuhi kewajibannya.

2. Capacity

Penilaian tentang kemampuan peminjam untuk melakukan pembayaran. Kemampuan
diukur dengan catatan prestasi peminjam di masa lalu yang didukung dengan
pengamatan di lapangan atas sarana usahanya seperti karyawan, mesin, sarana
produksi, cara usahanya, dan lain sebagainya.

3. Capital

Penilaian terhadap kemampuan modal yang dimiliki oleh calon peminjam, diukur
dengan posisi usaha/perusahaan secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh rasio
keuangan dan penekanan pada komposisi modalnya.

4. Colateral

Jaminan yang dimiliki calon peminjam. Penilaian ini untuk lebih meyakinkan
bahwa jika suatu risiko kegagalan pembayaran tercapai terjadi, maka jaminan
dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajibannya.

5. Conditions

Pihak BMT harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat dan secara
spesifik melihat adanya keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh
calon peminjam. Hal tersebut dilakukan karena kondisi eksternal memiliki
pengaruh yang cukup besar dalam proses berjalannya usaha calon peminjam dalam
jangka panjang.

Proses pemberian pembiayaan BMT

Secara garis besar, proses pemberian pembiayaan dalam lima tahapan, yaitu:

1. Pengajuan pembiayaan.

Nasabah mengajukan permohonan/proposal secara tertulis kepada BMT. Proses ini
dilakukan oleh petugas BMT melalui account officer (AO)/account manager (AM).
Ini dilakukan setelah semua persyaratan formal dipenuhi, seperti yang
menyangkut legalitas calon peminjam (SIUP, NPWP, akta pendirian, laporan
keuangan, data diri, dsb).

2. Analisis usulan pembiayaan.

Sementara usulan pembiayaan diproses oleh AO/AM (merupakan tugas dan
wewenangnya), AO/AM mengajukan permohonan analisis kredit, seperti penilaian
kelayakan usaha, penilaian jaminan, permohonan informasi calon peminjam, dan
analisis yuridis ke bagian administrasi pembiayaan dan hukum. Analisis
informasi yang berkaitan dengan calon peminjam juga dapat dilakukan melalui
wawancara informal dengan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan kegiatan
usaha/calon peminjam seperti tetangga, supplier bahan baku, rekanan usaha,
karyawan, dsb. Hal ini dilakukan untuk memastikan capacity (kemampuan) calon
peminjam untuk mengembalikan pinjamannya, dan menentukan nilai pinjaman yang
harus diberikan oleh BMT. Proses ini merupakan proses yang paling penting bagi
pihak pemberi dana (BMT), untuk memastikan keamanan dana yang diberikan serta
mengurangi risiko yang mungkin terjadi di masa datang.

3. Persetujuan komite pembiayaan BMT.

Bila seluruh proses oleh AO/AM telah selesai dilakukan, dokumen yang berisi
usulan pembiayaan tersebut diserahkan ke bagian administrasi pembiayaan untuk
diperiksa kelengkapannya. Selanjutnya dimintakan persetujuan komite pembiayaan.
Umumnya, komite pembiayaan terdiri dari AO/AM, manajer BMT dan pengurus
koperasi BMT (KBMT). Persetujuan dilakukan secara berjenjang tergantung nilai
usulan pembiayaan yang diajukan oleh calon peminjam.

4. Pengikatan pembiayaan.

Setelah usulan pembiayaan tersebut mendapat persetujuan dari komite pembiayaan,
tahap selanjutnya adalah mempersiapkan pengikatan pembiayaan (akad pembiayaan).
Sebelum dilakukan pengikatan, semua dokumen asli dan dokumen jaminan harus
telah diterima.

5. Pencairan dana.

Setelah dilakukan pengikatan pembiayaan, proses pencairan dana dapat dilakukan,
dengan terlebih dahulu dilakukan verifikasi tanda tangan calon peminjam

Walaupun BMT beroperasi berlandaskan prinsip syariah, namun siapa pun tanpa
memandang unsur SARA (suku, agama dan ras) dapat menabung dan mengajukan
pinjaman atau pembiayaan sepanjang memenuhi persyaratan yang ada. Perlu
diperhatikan, bagi kita yang memiliki sedikit kelebihan uang, tidak ada
salahnya mencoba untuk melirik BMT sebagai salah satu wahana dalam menyimpan
sebagian uang yang dimiliki. Paling tidak terdapat 2 manfaat, yakni mendapat
keuntungan dari bagi hasil, dan turut aktif membantu BMT dalam menyediakan
pendanaan untuk para pengusaha mikro dan kecil yang memerlukan pembiayaan.
Khusus bagi umat Islam yang berkelebihan, utamanya dalam bulan suci ini, tidak
ada salahnya juga untuk menyalurkan sebagian dari zakat, infaq, dan sedekah
(ZIS) kepada BMT terdekat di lingkungan sekitar kita.

Dengan pendanaan dari ZIS
yang lebih besar, BMT akan memiliki kemampuan yang lebih besar dalam membantu
pembiayaan, khususnya bagi para pengusaha dan calon pengusaha yang memiliki
usaha yang layak, namun tidak memiliki persyaratan/jaminan memadai. Sementara
bagi yang kebetulan ingin memulai usaha atau memperbesar usaha yang telah ada,
BMT dapat menjadi salah satu alternatif dalam memperoleh pendanaan yang
diperlukan. Semoga bermanfaat!
Sumber : Agus Rasidi http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Oktober 2011 in khasanah

 

Tag: , , , ,

One response to “Nama “Baitul Maal Wa Tamwil” (BMT) :)

  1. Sandhora Travel

    3 Desember 2011 at 03:17

    kunjungi kami di http://www.sandhora-travel.com
    solusi mudah berhaji

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: