RSS

Arsip Kategori: Hikmah

Terkadang, ada seorang hamba yang ingin memperbaiki dirinya dan bertobat kepada Allah Ta’ala, tapi ketika dia melihat dan mengingat banyaknya dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu, dia pun berputus asa dan memandang dirinya sangat kotor, sehingga tidak mungkin dirinya diterima oleh Allah Ta’ala.
Ini jelas merupakan tipu daya Setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Ta’ala, dengan menjadikan mereka berputus asa dari rahmat-Nya, padahal rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya sangat luas dan agung.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hal ini dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya”[1].

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menuliskan di sisinya di atas arsy-Nya: sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului/mengalahkan kemurkaan-Ku”[2].

Khusus tentang pengampunan dosa-dosa dari-Nya bagi hamba-hamba-Nya, Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ}

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS az-Zumar: 53).

Ayat yang mulia ini disebut oleh sebagian dari para ulama ahli tafsir sebagai ayat al-Qur’an yang paling memberikan pengharapan kepada orang-orang yang beriman[3].

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menukil[4] sebuah kisah yang menarik untuk kita jadikan renungan; dari imam besar ahlus sunnah dari kalangan Atbaa’ut taabi’iin, Fudhail bin ‘Iyaadh rahimahullah[5], ketika beliau menasehati seseorang lelaki, beliau berkata kepada lelaki itu:

“Berapa tahun usiamu (sekarang)?”. Lelaki itu menjawab: Enam puluh tahun. Fudhail berkata: “(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Maka Fudhail berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya,

barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia :mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti),

dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia),

dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya”.

Maka lelaki itu bertanya: (Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)? Fudhail menjawab: “(Caranya) mudah”. Leleki itu bertanya lagi: Apa itu? Fudhail berkata: “

“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu”.

.Subhanallah! Alangkah agung dan sempurna kasih sayang Allah Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya, dan alangkah luas pengampunan-Nya atas dosa-dosa mereka, sehingga dengan bertobat dan memperbaiki diri dengan beramal shaleh, akan menjadikan dosa-dosa yang diperbuat oleh seorang hamba di masa lalu diampuni dan dimaafkan-Nya, sebanyak apapun dosa tersebut.

Maka maha suci dan maha benar Allah Ta’ala yang menyifati diri-Nya dengan firman-Nya:
{إِنّ رَبَّكَ واسِعُ الْمَغْفِرَةِ}

“Sesungguhnya Rabb-mu maha luas pengampunan-Nya” (QS an-Najm: 33).

Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:

– Luasnya rahmat dan pengampunan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya, padahal kalau sekiranya Allah Ta’ala mengazab mereka karena dosa-dosa mereka maka Dia Ta’ala maha mampu dan maha kuasa melakukannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh seandainya Allah menyiksa semua makhluk yang ada di langit dan bumi maka Dia (maha kuasa untuk) menyiksa mereka dan dia tidak berbuat zhalim/aniaya (dengan menyiksa mereka, karena mereka semua adalah milik-Nya), dan seandainya Dia merahmati mereka semua maka sungguh rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal perbuatan mereka”[6].

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Taubat (yang benar) akan menghapuskan (semua dosa yang dilakukan) di masa lalu”. Dalam hadits lain yang semakna, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa”.

– Semakin bertambah usia kita berarti akhir dari masa hidup kita di dunia semakin dekat dan waktu perjumpaan dengan Allah semakin singkat. Sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita), sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal”[7].


– Nasehat yang disampaikan dengan hati yang ikhlas akan memberikan pengaruh yang besar dan mudah diterima dalam hati. Oleh karena itulah, ketika seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Waasi’[8] tentang sedikitnya pengaruh ceramah yang disampaikannya dalam merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya, maka Muhammad bin Waasi’ berkata: “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan ceramah yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dari dirimu sendiri, sesungguhnya peringatan (nasehat) itu jika keluarnya (ikhlas) dari dalam hati maka (akan mudah) masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)” [9].

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat untuk memotivasi diri kita agar selalu bertobat dan mengisi sisa usia kita dengan kebaikan dan amal shaleh.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 18 Rabi’ul Akhir 1433 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
Artikel: http://www.ibnuabbaskendari.wordpress.com

[1] HSR al-Bukhari (no. 5653) dan Muslim (no. 2754) dari ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.
[2] HSR al-Bukhari (no. 7015) dan Muslim (no. 2751) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[3] Lihat “Tafsir al-Qurthubi” (15/234) dan “Fathul Qadiir” (4/667).
[4] Dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 464) dan “Latha-iful ma’aarif” (hal. 108).
[5] Beliau adalah Fudhail bin ‘Iyaadh bin Mas’uud At Tamimi (wafat 187 H), seorang imam besar dari kalangan atba’ut tabi’in yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang ahli ibadah (lihat kitab “Taqriibut tahdziib”, hal. 403).
[6] HR Abu Dawud (no. 4699), Ibnu Majah (no. 77) dan Ahmad (5/182), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 2439).
[7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Az Zuhd” (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau rahimahullah “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 461).
[8] Beliau adalah Muhammad bin Waasi’ bin Jabir bin Al Akhnas Al Azdi Al Bashri (wafat 123 H), seorang Imam dari kalangan Tabi’in ‘junior’ yang tat beribadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits, Imam Muslim mengeluarkan hadits beliau dalam kitab “Shahih Muslim” , biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (26/576) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (6/119).
[9] Kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/122).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Juni 2012 in Hikmah

 

Liang kubur, awal perjalanan kita di Akhirat…

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على نبيه المصطفى، أما بعد

Khalifah kaum muslimin yang keempat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu jika melihat perkuburan beliau menangis mengucurkan air mata hingga membasahi jenggotnya.

Suatu hari ada seorang yang bertanya:

تذكر الجنة والنار ولا تبكي وتبكي من هذا؟

“Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat perkuburan?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده أشد منه

“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “hasan gharib”. Syaikh al-Albani menghasankannya dalam Misykah al-Mashabih)

Bagaimanakah perjalanan seseorang jika ia telah masuk di alam kubur?

Baca selengkapnya..

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2011 in Hikmah

 

Mereka Bertiga Pun Menangis..

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia berkata:

Abu Bakarradhiyallahu’anhu berkata kepada Umar beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Marilah kita bersama-sama pergi ke rumah Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering berkunjung kepadanya.” Tatkala kami sampai bertemu dengannya, dia pun menangis. Mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tangisi? Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka dia menjawab, “Saya menangis bukan karena mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi saya menangis karena wahyu telah terputus turun dari langit.” Maka ucapannya itu membangkitkan perasaan mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- untuk melelehkan air mata. Akhirnya mereka berdua pun menangis bersamanya (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/76-77])

Hadits yang agung ini mengandung mutiara hikmah, di antaranya:

Baca selengkapnya..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2011 in Al-Islam, Hikmah

 

Tag:

Keutamaan Tersenyum di Hadapan Seorang Muslim

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim, yang hadits ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain,

Baca selengkapnya..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2011 in Adab, Al-Islam, Hikmah, Nasihat

 

Tag: ,

Orang yang Menyesal di Hari Kemudian..

Sudah maklum bahwasanya penyesalan berada di belakang.

Ungkapan tidak ada kata terlambat, itu hanya berlaku di dunia. Tidak ada kata terlambat bertobat kepada Allah Ta’ala dari bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Namun di akhirat nanti yang ada hanya ungkapan semua sudah terlambat, terlambat untuk melaksanakan amal-amal sholeh dan bertobat dari melakukan dosa. Yang ada hanya penyesalan di atas penyesalan karena tidak mungkin lagi bisa kembali ke dunia.

Baca selengkapnya..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Mei 2011 in Hikmah, Ingatlah

 

Tag: ,

Mereka Yang Tidak Dilalaikan Dengan Urusan Dunia Dari mengingat Allah

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Faathir ayat 28:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Muhammad bin Sirin rahimahullah

Muhammad bin Sirin rahimahullah[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya.

Akan tetapi tahukah anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangatwara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah?.

Baca selengkapnya..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2011 in Hikmah

 

Tag: ,

Kebahagiaan….

Setiap manusia tentu menginginkan kebahagian menghiasi hidupnya, namun seringkali manusia lupa sebenarnya apa hakekat kebahagiaan itu. Persepsi apa itu bahagia dan bagaimana cara mendapatkanya tentu saja setiap orang akan berbeda pendapat. Sebagian menilai bahwa bahagia itu kalau mempunyai harta banyak, karier bagus, jabatan tinggi , dan kekuasaan ditangan.

Diantara beragam takaran kebahagiaan, sepertinya kekuasan merupakan hal yang paling menggiurkan. Beragam cara orang  lakukan demi untuk meraih dan merebut kekuasaan. Karena dengan kekuasaan segala hal bisa diperoleh, harta, wanita dan tahta..

Baca selengkapnya..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2011 in Hikmah

 

Tag: , , ,